man in the news

Idham Azis Banyak Pengalaman Reserse

Bukan sekali ini saja, sebagai Kapolda Metro Jaya, Irjen (Pol) Idham Azis, menggantikan posisi Irjen (Pol) Mochamad Iriawan. Yang jelas, posisinya sekarang tak lepas dari prestasi yang pernah diraih bersama Jenderal (Pol) Tito Karnavian, yang juga satu angkatan dengannya. Seorang reserse kawakan yang dinilai mampu menyelesaikan kasus-kasus besar yang belum dituntaskan pendahulunya.

Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian merombak sejumlah jabatan strategis Polri melalui Telegram Rahasia (TR) nomor ST/1768/VII/2017 tertanggal 20 Juli 2017. Salah satu yang dimutasi Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Mochamad Iriawan, yang digantikan oleh Irjen (Pol) Idham Azis. Keputusan ini tertuang dalam telegram rahasia bernomor ST/1768/VII/2017 tertanggal 20 Juli 2017. Dalam TR tersebut, sebanyak 51 pati dan pamen Polri dirotasi. Dalam telegram yang diteken Asisten SDM Kapolri Irjen Pol Arief Sulistyanto, nama Idham Aziz ada di deret keempat.

“Ini mutasi rutin, dalam rangka tour of duty dan tour of area,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto. Kapolri sendiri telah mengungkapkan alasannya memilih Idham. Menurut Tito, Idham memiliki banyak pengalaman di bidang reserse, sehingga dianggap mampu menyelesaikan sejumlah kasus besar yang belum tuntas. “Beliau orang lama di Jakarta dari letnan dua dinasnya di Jakarta, di Depok, Kasat Reserse di Depok, kemudian pernah di Metro Jaya di reserse, saya katakan kawakan,” kata Tito di Kompleks Mabes Polri, Jakarta.

Tito menyatakan, teman seangkatannya di Akademi Kepolisian (Akpol) itu juga berpengalaman dalam bidang terorisme. “Saya sangat tidak ragu dengan kemampuannya dalam menangani Jakarta nantinya,” ucap mantan Kapolda Papua itu.

Siapa Idham Azis? Namanya memang tak ‘sepopuler’ M Iriawan atau Iwan Bule. Namun perjalanan pria kelahiran Sulawesi Selatan, 30 Januari 1963, itu jelas bukan sembarangan. Di Mabes Polri, sebelum kemudian menggantikan Iriawan, Idham menduduki posisi sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri.

Idham adalah lulusan akademi kepolisian tahun 1988, satu angkatan dengan Kapolri. Idham juga masuk dalam tim Detasemen Khusus 88 Antiteror, yang berhasil melumpuhkan teroris Dr Azhari Azhar dan komplotannya di Kota Batu, Jawa Timur pada 2005. Saat itu, ia mendapat penghargaan dari Kapolri Sutanto, bersama dengan Tito , yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Densus 88 Antiteror Polri. Dan, pada 2010 Idham diangkat menjadi Wakadensus 88 Antiteror Polri.

Tahun 2014, Idham Azis adalah Kapolda Sulawesi Tengah, hingga kemudian pada tahun 2016 ia kembali ditarik ke Mabes Polri dan selanjutnya menduduki jabatan terakhir sebagai Kadivpropam Polri.

Kini Idham resmi Kapolda Metro Jaya. Pria asli Kendari ini pun menggeser Iriawan yang menjadi Asisten Operasi Kepala Polri, yang sebelumnya dijabat Inspektur Jenderal Polisi Unggung Cahyono. Idham dipercaya Kapolri karena dinilai bakal mampu untuk mengamankan dan mengayomi masyarakat yang ada di Ibu Kota Negara. Meskipun hal itu tentu bukan persoalan mudah.

Tiga Kali Ikut Tes
Untuk menjadi polisi pun, sebenarnya tak mudah bagi Irjen Idham Azis. Diketahui, ia harus tiga kali tes Akademi Kepolisian (Akpol). “Beliau lulus Akpol 1988, setelah tiga kali ikut seleksi, dan pertama tugas di Bandung,” kata Fitri Handari, istri jenderal bintang dua ini.

Idham menuntaskan pendidikan mulai dari SD di Kampung Salo, lalu di SMP 2 dan SMA 1 Kendari. Setelah menamatkan sekolahnya, ia lalu mencoba ikut seleksi Akpol tapi belum beruntung.

Sembari menunggu seleksi tahun berikutnya, Idham muda mendaftarkan diri jadi mahasiswa di Unhalu (kini UHO) di Fakultas Pertanian. Tahun berikutnya, ia tes kembali dan lagi-lagi gagal. “Tapi beliau tetap menyimpan impiannya. Kali ketiga, tahun 1988 beliau lulus,” tambah sang istri.

Idham anak dari pasangan Tuti Pertiwi dan H Abdul Azis Halik. Kedua orang tuanya, bahkan sampai kini masih tinggal di Kampung Salo, menikmati masa tuanya. Namun, kedua orang tua Idham menolak bicara dengan alasan sedang tidak sehat. Tapi yang jelas, Idham, saat masa kecil, oleh kawan termasuk di sekitar rumah, punya panggilan akrab yakni Calli.

“Idham itu saya akui pintar. Sering ranking di sekolah dulu,” kata seorang saudara Idham bernama Iksan Asti Azis, yang kini bermukim di Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Lelaki yang akrab disapa Buyung ini mengatakan bahwa saudaranya itu di dalam kelurga dikenal sebagai sosok yang sangat berbakti. “Kami lima bersaudara, Pak Idham kedua. Saya ketiga,” kata Buyung.

Ia bercerita, Idham terakhir kali pulang ke Kendari, Februari 2017 lalu saat bersama Kapolri Jenderal Tito berkunjung ke Sultra. “Dia sempat ke rumah di Kampung Salo, ketemu orang tua,” katanya.

Di kalangan tetangganya di Kampung Salo, Idham dikenal sebagai pribadi yang ramah. Seorang warga bernama Wiliyanto (57) mengaku sejak bertugas di Jakarta, Idham memang sudah jarang pulang.

Sesekali saat Idham pulang, dia menyempatkan diri untuk menyapa, masyarakat sekitar. “Kalau pulang hanya dua kali setahun, kali yah. Itupun hanya menjenguk orang tuanya. Orangnya baik,” katanya mengingat saat-saat Idham pulang ke Kampung Salo.

Sejak menduduki jabatan penting di kepolisian, secara rutin membantu pembangunan empat masjid. Ada yang di Soropia, dan di Kecamatan Kendari.

Gantikan Iriawan
Terkait dengan jabatan barunya, Irjen Idham Azis menceritakan, bukanlah kesempatan ini saja dia menukar tempat Irjen M Iriawan di organisasi Polri. Pada tahun 2010, dirinya menempati posisi Iriawan jadi Direktur Reserse Kriminil Umum Polda Metro Jaya. Setelah itu, ia menjabat Kepala Divisi Profesi serta Pengamanan Polri, juga mengisi jabatan yang ditinggal Iriawan.

”Lalu 2016 saya gantikan beliau di Divpropam, Alhamdulillah saya juga menukar beliau sekali lagi (jadi Kapolda Metro Jaya), ” tutur Idham di Mapolda Metro Jaya. Idham mengakui telah mengetahui Iriawan mulai sejak masa pendidikan di Perguruan Tinggi Pengetahuan Kepolisian tahun 1993. Waktu itu, dia junior Iriawan.
” Karena dahulu kami keduanya sama PTIK Tahun 93 saya seringkali manggul senjata Kang Iwan, bila saat lari, ” kata Idham.

Untuk jabatan barunya, Idham memohon kerja sama dari semuanya pihak untuk melindungi keamanan di Jakarta. Diakuinya tidak dapat bekerja sendiri melindungi kestabilan keamanan di Ibu Kota ini. ” Jadi saya tidaklah siapa pun juga tanpa ada support dari beragam pihak, lagi saya menitip diri, saya siap menggerakkan program-program di DKI. Saya siap menyumbangkan jiwa raga saya untuk kejayaan DKI serta untuk Polri terkasih, mohon support mohon doa, ” ucap dia.

Sebagai Kapolda Metro Jaya yang baru, Idham harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang sebelumnya menjadi tugas Iriawan. Dari teror keji terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan hingga kasus tewasnya mahasiswa MIPA UI Akseyna Ahad Dori, yang tak kunjung terungkap sejak 2015.

“Saya akan melanjutkan semua apa-apa yang dikerjakan oleh Pak Iwan (Iriawan). Kemudian saya tidak akan keluar dari apa yang menjadi kebijakan dari Bapak Kapolri, yaitu Promoter,” ujar Idham usai acara pisah sambut di Mapolda Metro Jaya. [korankamnas]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

latest posts

Copyright © 2018 Breaking News All Right Reserved

To Top